Horok Horok

Horok-horok adalah makanan ringan yang terbuat dari tepung pohon aren.[1]Horok-Horok adalah makanan yang tergolong langka, di karenakan Horok-horok umumnya hanya ditemukan di Jepara, Sulit bahkan tidak dapat ditemukan di luar Jepara. Horok-horok umumnya dimakan dengan Sate Kikil, soto, bakso, gulai, dan sayur pecel. Selain itu dapat juga dimakan dengan diberi santan dan sedikit gula pasir, seperti bubur.
Bahan

Bahan pokok horok-horok adalah tepung yang terbuat dari pohon aren.[2] Metode mengambilnya menggunakan sisir rambut. Bentuknya seperti busa styrofoam yang kenyal dengan rasa sedikit asin. Untuk memperoleh pohon aren, para perajin asal Jepara sampai berburu ke luar daerah, seperti ke Rembang, Pati dan Blora. Tepung aren ini, setelah dibersihkan, kemudian dikukus hingga matang dan setelah didinginkan, Horok-horok akan bertekstur kenyal.

Gadoh Sapi

PROBOLINGGO. Mura adalah satu dari sekian banyak warga Probolinggo yang mendapatkan bantuan berupa sapi untuk dipelihara atau digaduh. Gaduh merupakan salah satu pekerjaan sampingan masyarakat di Dusun Blado dan di desa-desa di Jawa yang telah lama dilakukan, menggaduh adalah pekerjaan di mana seseorang bekerja untuk merawat ternak orang lain yang belum layak jual (nilai jual rendah) sampai ternak tersebut layak untuk dijual (harga jual tinggi) atau biasanya dalam jangka waktu 6 bulan sampai dengan 8 bulan perawatan.

Awalmula pertemuan Mura dengan Rumah Zakat dan Masyarakat Ternak Nusantara (MTN) ketika Ghazali selaku tokoh masyarakat setempat sekaligus ketua kelompok peternakan menginformasikan bahwa keadaan keluarga Mura layak untuk mendapatkan bantuan ini. Akhirnya Rumah Zakat dan MTN memberikan satu ekor sapi untuk dipelihara oleh Mura dengan sistem gaduh.

Nenek yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani ini mengaku sangat senang saat menerima bantuan ini. “Senang bila dapat gaduhan sapi seperti ini, apalagi kalau nanti hasil yang didapat besar, Alhamdulillah bisa untuk makan dan hidup juga ditabung,” ungkapnya.

“Saya hanya punya ayam di rumah, tidak punya sapi atau kambing maupun domba. Akan tetapi saya biasa memelihara ternak dengan sistem gaduh,” itulah pernyataan Mura, salah seorang warga yang dititipi sapi oleh Rumah Zakat dan MTN yang nantinya akan diolah menjadi kornet Superqurban, saat ditanya mengenai pengalaman beternaknya.

Kini Mura merawat dua ekor sapi di rumahnya, salah satunya milik Rumah Zakat. Untuk makanan ternaknya, Mura biasa memberikan rumput yang didapat dari ladang dan dedak yang dicampur dengan air. “Bila ternaknya sakit, saya kasih jamu-jamuan biar kuat dan sehat,” tambahnya. Sapi-sapi ini ia pelihara dengan baik walaupun bukan miliknya penuh.
2012 By Kang Mis | Durung Test Validitas CSS dan HTML.